Sunday, January 3, 2010

Sunday, January 3, 2010 | 0 comments
Sesuai dengan permintaan sahabat ku yang jauh di sana, kini aku postingkan sebuah cerpen. cerpen yang sungguh sangat asyik dan mengenjoykan. judulnya "Ombak Berdansa di Liquisa" tapi juga membuat masalah. lho? kok bermasalah?

ya! masalahnya adalah cerpen ini akan dijadikan materu UAS lisan mata kuliyah Prose. so, kita harus membacanya berulang dan menelaah semua unsur sastranya. mulai dari penokohannya, settingnya, theme-nya, alurnya, majas-majas yang dipakai, dan pesan moralnya.
nah ini aku sertakan dalam bentuk PDF. siapaun bisa mendownloadnya DI SINI.
bila tidak mau mendownloadnya, oke gak apa-apa. di bawah ini aku sertakan cerpennya:



OMBAK BERDANSA DI LIQUISA
Ahmadun Yosi Herfanda

Ombak berdansa di Pantai Liquisa. Lidah-lidahnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir. Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang berdansa dalam hentakan musik disko.

Ayo! Kalau tidak berdansa kau belum ke Liquisa,” seorang lelaki berkata sambil menarik tangan perempuan yang duduk di depan bar. Kota pantai di barat daya Dili, Timor Timur, ini memang dikenal dengan masyarakatnya yang suka berpesta, dan inilah sisa budaya yang ditinggalkan penjajah Portugis.

Perempuan itu bergeming di tempat duduknya. Ia menggeleng di keremangan. Lelaki itu melotot. Matanya menyala dalam remang cahaya lampu. Rambutnya yang berombak seperti berdirian tiba-tiba. Perempuan yang dipanggil Armila itu balas melotot. Matanya juga menyala. Dan…, tiba-tiba terdengar suara tembakan, berkali-kali. Mereka tegang dan gelisah. Tapi, orang-orang yang berdansa seperti tak peduli.

“Itu Victor!” Seorang lelaki, tinggi kurus, dengan tubuh basah kuyup air hujan, tiba-tiba menyelinap masuk ke ruang dansa. Armila langsung memberi isyarat dengan tangan padanya.

Victor menangkap isyarat itu dan tergopoh-gopoh menuju depan bar. “Rumahku disergap. Alves dan kawan-kawan masih di sana,” kata lelaki kurus itu. “Cepat kita lari. Dua tentara memburuku.”

Dua sosok bayangan berkelebat menerobos pintu. Jao langsung melompat dari tempat duduknya, dan menerobos keluar lewat pintu belakang. Tapi, dua letusan pistol menyongsongnya. Armila tak jadi ikut menerobos keluar. Ia menyusup ke tengah orang-orang yang berubah panik oleh keributan itu. Mereka berlarian ke sana kemari. Victor mencoba memanfaatkan situasi untuk kabur. Tapi, tentara lebih cepat. Ia ditangkap persis di mulut pintu.

Pelan-pelan suasana kembali tenang. Orang-orang kembali berdansa. Armila pura-pura ikut larut ke dalamnya. Tapi, ketika semua orang telah menemukan pasangan masing-masing, ia jadi merasa aneh, berjoget sendiri di tengah-tengah mereka. Akhirnya ia memutuskan kembali duduk di depan bar, dengan dada yang masih bergemuruh.

“Armila!” Suara perempuan tiba-tiba mengejutkannya. Ia menoleh ke arah suara itu. Matanya memandang penuh selidik pada perempuan muda yang tiba-tiba muncul di depannya.

“Lupa, ya? Aku Mariana. Dulu kita pernah berkenalan di rumah Victor.”

“Oh ya. Kami tadi menunggumu di sini.”

“Maaf, aku agak terlambat. Pas ada keributan tadi aku datang. Aku sempat melihat Jao melompat lari ke belakang.”

“Bagaimana nasibnya?”

Mariana hanya menggeleng. Armila merasa menemukan kawan senasib. Gemuruh dadanya sedikit reda. Tapi hujan tetap menggemuruh di luar, mengguyur ombak yang terus berdansa dengan angin dan pasir pantai.

“Kau ikut ke hutan?” tanya Mariana.

“Tidak. Aku masih kuliah di Universitas Dili.”

“Jao cerita apa saja tentang aku?” Mariana bertanya lagi.

“Tidak banyak. Cuma berkata kau kawan sekelasnya di SMA.”

Mariana menarik napas panjang, seperti tiba-tiba ada sesuatu yang membebani perasaannya. “Kau nginap di rumahku saja. Malam-malam begini tidak mungkin balik ke Dili,” katanya sambil mencoba menekan gejolak perasaannya.

“Kupikir begitu. Aku tadi sempat bingung mau nginap di mana. Rencananya tadi mau di losmen sebelah. Tapi aku tak bawa duit. Jao yang janji membayariku.”

“Jangan kuatir. Aku akan menanggungmu sampai kau bisa kembali ke Dili. Sebentar lagi kita pulang jalan kaki. Aku cuma bertugas sampai pukul dua belas.”

Lewat pukul 12.00 hujan reda. Armila dan Mariana melangkah setengah menggigil dalam udara dingin, menyusur jalan beraspal yang mendaki bukit. Udara malam Liquisa memang terasa dingin sekali karena hujan. Awan hitam di langit bergerak cepat. Sesekali cahaya bulan menerobos dari celah-celah mendung tebal, mengusap pohon-pohonan. Butir-butir air hujan di ujung dedaunan gemerlapan beberapa saat tertimpa cahaya itu, seperti butir-butir kaca kristal, lalu padam setelah jatuh ke bumi.

Mereka nyaris sampai ke rumah Mariana ketika tiba-tiba hujan mengguyur bumi Liquisa kembali. Dengan setengah berlari, mereka pun tiba di depan pintu sebuah rumah sederhana separuh tembok. Baju dan rambut mereka agak kuyup.

“Kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan mami dan anakku.”

Mariana langsung membawa Armila masuk kamar, lantas membuka almari kayu, mengambil sepotong daster dan menyodorkannya pada perempuan itu. “Pakailah ini untuk tidur.”

“Mana anakmu?” tanya Armila sambil melepas kaus oblongnya.

“Di kamar sebelah bersama ibu.”

“Suamimu?”

Mariana tidak langsung menjawab. Ia pura-pura suntuk merapikan rambutnya. “Aku tak punya suami,” katanya lirih.

“Oh, maaf…. Lalu… anak itu…..?”

“Anak itu bagian dari masa laluku. Juga masa lalu Jao.”

“Masa lalu Jao?” Armila tampak terkejut.

“Ah, sudahlah. Besok saja kita bicarakan. Kau pasti lelah dan ngantuk. Tidurlah. Dipannya cuma cukup untuk satu orang. Aku akan tidur di kamar sebelah bersama anakku. Selamat tidur.”

Armila ditinggalkan begitu saja di sebuah kamar sempit yang hanya diterangi listrik 10 watt. Ia hanya sempat melongo ketika Mariana melangkah pergi. Ia sempat menangkap sesuatu yang berat untuk diucapkan oleh perempuan penjaga bar itu tentang anaknya dan Jao. Sesuatu yang mungkin panjang untuk diceritakan sehingga harus ditunda.

Dada Armila yang tinggal bergemuruh sendiri oleh pertanyaan-pertanyaan dan dugaannya sendiri. Apa hubungan anak itu dengan Jao? Apa hubungan Mariana dengan Jao? Apakah Jao pernah menikahi Mariana?

Ingat Jao, Armila ingat janji dan impian-impian lelaki jangkung itu, “Percayalah, Armila. Kalau Timor merdeka, aku akan langsung melamarmu jadi istriku. Kita akan sama-sama menikmati kemerdekaan. Ha-ha-ha….” Tawa lelaki itu mengoyak udara sore, suatu hari, ketika mereka berjalan menyusuri sungai kering yang tinggal berisi pasir dan batu-batu, di tepi hutan di kawasan Ermera.

Armila tidak dapat memejamkan matanya. Dadanya tetap bergemuruh. Kepalanya kacau oleh pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran aneh. Kadang-kadang ia teringat kuliahnya yang kacau akibat pergerakan Clandestine yang diikuti dan menyeretnya cukup jauh ke masalah-masalah politik yang tak sepenuhnya ia pahami. Apalagi setelah Jao sering mengajaknya keluar masuk hutan, atau mengunjungi desa-desa di malam gelap tempat para forsa bertemu. Bayang-bayang lelaki jangkung berambut keriting itu pun muncul di benaknya, menyeringai, tertawa, lalu lenyap begitu saja begai ditelan rimba gelap.

Armila kadang-kadang merasa amat benci pada lelaki itu, lelaki yang sering berbuat sesukanya: jarang mandi, tidur mendengkur seenaknya di mana saja, minum anggur sampai tubuhnya oleng, suka mencaci maki dan menempeleng anak buahnya-bahkan pernah menembak seorang anak buahnya tanpa sebab yang jelas.

Namun, ada kekuatan aneh yang tak dapat dibendung oleh apa pun, getaran yang juga tak sepenuhnya ia pahami: cinta. Kekuatan ini seperti gerakan subversif, terus merongrong hatinya.

“Engkaulah satu-satunya wanita yang berhasil menundukkan hatiku, Armila. Aku mencintaimu,” kata Jao dengan bibir bergetar dalam sorot cahaya api unggun di dalam goa tersembunyi di balik bukit, pada suatu malam.

Armila hanya menunduk. Perasaan aneh tiba-tiba menyergap hatinya. Dan, seperti api unggun yang membakar kayu-kayu kering, cinta pun lantas membakar berahi mereka sampai hangus, sebelum perempuan itu benar-benar menyadari arti cinta dan kehadirannya.

Hanya mereka berdua di dalam goa itu. Sebagian forsa yang lain sedang turun ke Liquisa untuk menjemput kiriman dari Dili. Udara malam tiba-tiba mati. Hening sekali. Hanya suara jangkrik dan burung hantu di kejauhan, serta kemeretek kayu-kayu kering yang terus terbakar api unggun. Armila tertidur setelah merebahkan kepalanya, seperti kapal menemukan pelabuhan, di pangkuan Jao.

Armila tidak ingat benar sejak pukul berapa ia tertidur di kamar sempit rumah Mariana. Ketika membuka mata, hari sudah agak siang. Berkas-berkas cahaya matahari menerobos masuk lewat celah-celah atap genteng. Kepalanya terasa agak berat.

“Mandilah biar segar. Kamar mandi di belakang. Sudah ada handuk di sana.” Mariana melongokkan kepalanya lewat mulut pintu kamar yang setengah terbuka, sambil tersenyum pada Armila yang masih terbaring di balik selimut bergaris-garis hitam.

“Thank’s.” Armila bangkit dan melompat turun, melangkah agak gontai ke kamar mandi. Selesai mandi dan merapikan diri, ia langsung ke ruang tamu. Ada ganjalan pertanyaan yang mesti dipuaskan oleh jawaban Mariana.

“Ini anakku. Yasso, ayo berkenalan dengan Tante Mila.” Mariana sudah menunggu di ruang tamu bersama anaknya-seorang bocah lelaki berusia sekitar enam tahun.

Anak itu berdiri menyongsong Armila sambil mengulurkan tangannya. Ia menyambut tangan itu dengan hangat. Ada getaran aneh ketika ia menatap wajah anak itu. Wajah itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang sangat dikenalnya: Jao Alvino. Armila terlongong beberapa saat sampai suara Mariana menyadarkannya.

“Yasso, sana makan dulu bersama nenek di belakang.”

Anak itu menurut saja.

“Wajahnya mirip Jao kan?” Mariana agaknya menangkap apa yang sedang bergejolak di hati Armila.

“Jadi… itu anak Jao?”

“Ya.”

Wajah Armila mendadak berubah kemerahan. Ada arus listrik yang tiba-tiba menyengat hatinya. “Jadi… kau istri Jao?”

“Ceritanya panjang. Kami bergaul cukup lama ketika sama-sama di SMA. Dia mau menikahiku selesai ujian, tapi dengan syarat aku mau ikut dia ke Lisabon. Aku tidak keberatan asal boleh membawa mamiku. Kau tahu, aku anak satu-satunya. Papiku sudah lama meninggal. Sedang mamiku tak punya saudara dan sering sakit-sakitan. Tentu aku tak tega meninggalkannya dalam keadaan begitu. Lalu Jao nekat berangkat sendiri. Katanya, masa depannya ada di sana. Empat bulan setelah kepergiannya, Yasso lahir. Tahu-tahu, tahun lalu dia muncul lagi. Katanya, ada yang harus dia perjuangkan di sini.”

Mendengar cerita itu, hati Armila seperti diberangus api. Bumi dirasakannya seperti jungkir balik tiba-tiba. Tapi ia berusaha keras menguatkan diri, mencoba mendengarkan cerita itu dengan dingin. Namun, pertahanannya jebol juga. “Bajingan! Lelaki itu telah membohongiku!” teriaknya setengah histeris.

“Maafkan aku, Mila, aku telah mengganggu perasaanmu. Aku tahu kau mencintai Jao. Tapi, kurasa, kau perlu tahu ini semua agar tak ikut menjadi korbannya.”

Dada Armila bergemuruh keras, seperti mau meledak. Ia ingin menjerit keras-keras, atau mengumpat Jao sambil berteriak kuat-kuat. Tapi ini tidak ia lakukan. Lelaki itu toh tidak ada di depannya. Bahkan nasibnya pun tidak jelas, tertembak mati, ditangkap tentara, atau lolos kembali ke hutan. Yang dapat dia lakukan hanyalah menangis sambil mendekap Mariana. “Maafkan aku, Mariana. Aku sungguh tak bermaksud merebut Jao dari tanganmu. Dia yang telah membohongiku,” katanya dengan agak terbata, setelah tangisnya reda.

“Kau tidak bersalah, Armila. Itulah Jao, kalau kau mau tahu. Dan, jangan kaget, ada korban lain yang bernasib lebih malang daripada kita. Kira-kira tiga bulan setelah muncul kembali, Jao mengajak seorang gadis ke barku. Isabela namanya. Ia bilang gadis itu keponakannya. Kira-kira lima bulan kemudian, gadis itu datang sendiri sambil menangis. Ia bilang, telah mengandung anak Jao. Kulihat perutnya memang sedikit membuncit. Ia minta tolong agar aku mendesak Jao untuk menikahinya. Ia bahkan mengancam, kalau Jao tidak menikahinya, ia akan melaporkan persembunyiannya pada tentara. Malamnya Jao datang ke barku. Maka, semua keinginan gadis itu kusampaikan kepadanya. Seminggu setelah itu, gadis itu ditemukan mati terbunuh di tepi hutan.”

“Ya, ampun…” Armila terperangah. “Apa Jao yang membunuhnya?”

“Tidak ada bukti yang jelas. Tapi, ada yang melihat, sehari sebelumnya gadis itu pergi bersama Jao.”

Pulang dari Liquisa naik bis umum bukn kenangan manis dibawa Armila—seperti yang dijanjikan Jao. Tapi, adalah kenangan teramat pahit, bahkanteramat menyakitkan: serangkaian tragedi yang menimpa kaumnya akibat ulah seorang lelaki bernama Jao Alvino suatu kepahitan yang tidak dapat ia maafkan. “Lelaki itu benar-benar pembohong!” umpatnya berkali-kali dalam hati, di dalam bus yang meliuk-liuk menyusur lereng perbukitan menuju Dili.

Maka, begitu menginjakkan kaki di Kota Dili, yang pertama-tama dicarinya adalah kabar tentang nasib Jao dan di mana ia berada. Ada dendam baru yang mesti ia tumpahkan kepada lelaki jangkung itu. Ia seperti tidak sabar lagi. Hatinya terasa hangus terbakar. Ia ingin menemui lelaki itu hari itu juga, hidup atau mati. Kalau lolos dari sergapan tentara, ia ingin memburunya ke hutan. Kalau tertangkap, ia ingin melunaskan sakit hatinya di penjara. Kalau mati, ia ingin menyumpahi mayat atau kuburannya.

Armila menemui beberapa aktivis Clandestine yang biasa berhubungan dengan Jao. Tapi mereka mengatakan belum ada kabar. Mereka hanya mendengar tentang Alves dan kawan-kawannya yang tertangkap di Liquisa.

Ditunggu sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, akhirnya Jao tertangkap juga. Hidup-hidup, dengan paha kiri tertembus peluru. Armila langsung memburunya ke penjara. Lelaki itu menyunggingkan senyum begitu melihat Armila datang. Tapi gadis ini malah mencibir. “Mariana sudah bercerita banyak tentang kau,” katanya dengan mata yang memancarkan kebencian.

“Cerita apa saja dia?” Jao langsung curiga.

“Kau pasti sudah dapat menebaknya. Aku berkenalan dengan anakmu di rumahnya. Juga tentang Isabela yang kau bunuh di tepi hutan setelah kau hamili. Kau pembohong besar, Jao.”

“Bangsat dia!” Mata lelaki itu makin merah menyala.

“Kupikir, ini ganjaran yang setimpal untuk lelaki macam kau. Akulah yang menunjukkan tempat persembunyianmu pada tentara.” Suara Armila datar, tapi kata-katanya menghantamkan pukulan telak.

“Jadi, kau mengkhianati aku, Armila? Kau mengkhianati bangsa Timor! Bangsat kau!”

“Tidak, Jao. Aku tetap setia pada cita-cita perjuangan Clandestine. Tapi, bangsa Timor tidak membutuhkan orang seperti kau. Kami membutuhkan para pejuang yang dapat melindungi kaum perempuan, bukan perusak perempuan seperti kamu. Kau tak ada artinya bagi masa depan kami. Selamat tinggal, Jao!’’

Dengan wajah tetap membara, Jao terperangah mendengar kata-kata Armila. Pada saat itulah perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan lalaki yang tangannya sedang bergetar geram mencengkeram terali besi itu.

“Bangsaaat! Awas, kubunuh kau, pengkhianat! Perempuan busuuuuk!!!” suara Jao keras sekali, seperti mau meledakkan penjara.

Tapi, Armila terus melangkah pergi, pura-pura tidak mendengar umpatan itu. Hatinya, yang terasa amat pedih, hancur berkeping-keping, lalu menyerpih bagai serpihan ombak yang terus berdansa di Pantai Liquisa.

Dili, Juli 1994

read more

Thursday, December 24, 2009

Thursday, December 24, 2009 | 0 comments
TERIMA KASIH



Terima kasih aku ucapkan untuk kamus bahasa inggris 2.03 yang telah membantuku. baik dalam mengerjakan tugas. ntah menerjemahkan bahasa inggris ke indonesia maupun dari indonesia ke inggris. sangat banyak manfaat aku rasakan dari kamus ini. dengan tampilan skin yang bisa diganti-ganti serta simplenya tampilan yang membuat mata tak cape melihatnya membuat kerjaanku lancar dan ok.

dan sebagai tanda syukur dan terima kasihku, aku ingin membaginya kepada semua yang membutuhkannyan. silahkan ambil FREE KAMUS 2.03

selamat bekerja sama dengannya dan selamat sukses dalam bahasa inggris...

read more

Thursday, December 10, 2009

Thursday, December 10, 2009 | 0 comments

Sobat…

Maaf sebelumnya karena pembagian kelompok diskusi untuk mata kuliyah BK tertunda lama. Ini diluar kemauanku. Mohon maaf sekali lagi.

Dan maaf juga kupinta bila ada yang merasa dirugikana atau ada yang merasa pembagian ini tidak adil. Sungguh tiada maksud begitu.

Saya sengaja posting dib log dengan extension JPG supaya tidak bisa dirubah-rubah. Walau hal ini juga membuat lumayan agak sulit untuk sobat lihat semua.

So, kalau pengen lihat silahkan klik gambarnya. Bisa juga langsung save as saja. Ok. Thank so much. And pardon me…



oh iya: ini nih tema yang harus didiskusikan oleh tiap kelompok:
1. Keterkaitan antara bidang pelayanan BK dan bidang-bidang lainnya.
2. Arah kecepatan BK dalam upaya pengembangan kemandirian siswa (SMA/SMK /Aliyah) secara optimal.
3. Kesalahan-kesalahan dalam memandang BK.

read more

Monday, December 7, 2009

Monday, December 7, 2009 | 0 comments


Kemarin aku dapat tugas membuat essay. namanya orang gak bisa, jadi aku membuat sebisa mungkin tapi tetap saja hasilnya banyak salahnya. nih aku posting. koreksi yach....


DIFFICULTIES OF WRITING

Writing is one of five English capability—listening, reading, speaking, writing, translating—that is student have to learn it in their study. In writing, all of student competence was integrated. It is product that shows aptitude student. So, writing is the important one—besides speaking—of English capability. But, most of us countenance many complexities in this subject, such as; grammar, get stuck, and vocabularies.

Grammar is the mind struggle in arrange word to sentence. It is bringing me go all out think stiff to produce sentence in my blank paper. It’s different when I used my mother language. I can write fluently without thinking about grammar. I can enjoy my writing and be able to produce many writing. You can look for it in my blogsite, http://www.elkifli.blogspot.com.

The beginner is difficult. This sentence is appropriate to me. When I get start to compose lose my words. All of my experience is vanishing. My mind is blank. No thing to found there. No idea I catch. Even I force myself to do it just I drop few.
English is foreign language that is why most of us have problem in produce vocabularies when starting in composing essay despite of our grade is in high level. Moreover, we have no writing habit. One of novel author said that habitually have effect to build our writing excellent.

End close, writing is no easy to whom unspecific in this case. Grammar is must in writing. Mastering vocabulary is ought to for provide a good sentences. Writing needs experiences, skill, habit and serious. Serious and habit are important requires to compose good essay. Without experience and skill our writing is tasteless also colorless.

read more

Wednesday, November 18, 2009

Wednesday, November 18, 2009 | 0 comments
IBU, Maafkan aku….


Sebuah harapan yang tak pernah habis aku gantung. Aku ingin sukses.
Aku ingin membahagiakan diriku dan keluargaku. Aku ingin ibuku bahagia dalam hidupnya. Namun masih sering kali aku membuatnya kecewa. Salah satunya kemarin (sudah lama) saat ibu menginginkan aku untuk tetap tinggal di rumah. Ya. Tinggal di rumah bersama beliau. Beliau menginginkan aku teta di rumah. Nggak usah bekerja. Oh maaf. Sebenarnya bekerja juga. Ya bekerja membantu pertanian yang ibu garap.
Itu permintaan ibu padaku. Namun aku membuatnya kecewa dengan pergi dari rumah. Entah egokah aku? Durhakakah aku? Maafkan aku ibu. Aku juga ingin ibu bahagia. Tapi Cuma beda cara Bu. Maafkan aku, mungkin caraku ini ibu nggak paham. (mungkin ini yang disebut dengan jurang pemahaman antara orang tua dan generasi penerusnya).
Aku masih muda bu. Perjalanan hidupku masih panjang. Aku masih harus menapaki sekian banyak jalan yang belum pernah aku tempuh. Aku masih harus banyak berbekal buat masa depanku (ugh… masa depan. Sok idealis). Bekalku, dan mungkin masa depanku, bukan hanya ada di desa ini Bu. Bukan hanya ada di daerah aku lahir. Aku harus keluar dari desa ini. Bukankah Imam Syafi’I juga berkelana? Bukankah orang-orang besar juga mengembara. Bukankah kebijaksanaan akan ditemukan dalam perantauan. Bukankah dalam perantauan akan banyak ilmu yang akan digapai.

Ibu tidak usah khawatirkan rizkiku. Ibu tidak usah memikirkan aku akan makan apa. Ibu tidak usah merisaukan diri karena tidak bisa mengirimiku. Aku tidak minta kiriman Bu. Aku tidak minta ibu mengirimiku makanan atau pun uang. Hanya restu dan doa yang aku pinta, Bu. Ibu harus percaya bahwa aku bisa menjaga diri dan memberi makan diriku sendiri Bu. Allah akan memberi rizki pada hambaNya yang berusaha, Bu. Allah, bahkan menjamin rizki hambaNya yang mencari ilmu di jalanNya, Bu. Anakmu yakin, ibu percaya akan kebesaran Allah bukan?

Atau, apakah ibu mengkhawatirkan keadaan ibu tanpa anakmu ini? Aku yakin dengan haqul yakin bu, Allah akan menjaga ibu. Allah akan memberi ibu rizki sebagaimana Ia juga memberiku rizki. Aku yakin, Allah akan menjaga ibu sebagaimana Ia menjagaku dalam perantauan, Bu. Bukankah Ibu selalu berdoa padaNya. Bukankah ibu selalu curhat padanya di tengah malam-tengah malam umur ibu? Bukankah ibu juga mewarisi kekuatan almarhum ayah, Bu. (ibu saat nulis kalimat ini, aku kangen ayah, Bu…). Bukankah ketegaran hati ibu juga sudah tertempa setelah sekian lama hidup bersama ayah? (dan semoga aku juga memilikinya…)

Sekarang, di sini,di tempatku mengais puing-puing harapan, aku sudah sedikit banyak belajar arti perjuangan dan pengorbanan. Aku harus mengorbankan waktu istirahatku untuk bekerja. Bukan. Bukan bekerja tapi berjuang dan beribadah. Bukankah mencari nafkah adalah ibadah? (Iya. tapi bagiku yang belum nikah ini apakah mencari nafkah itu termasuk ibadah? Ah semoga saja ibadah. Bukankah semua amal tindakan yang dikerjakan dengan menyebut namaNya jadi ibadah? Apalagi ini untuk mencari ilmu dan membahagiakan keluarga? Ah semoga saja… Amien…). Aku juga harus mengorbankan beberapa tahun kuliahku untuk mengalah demi adikku sekolah. Ya aku juga korbankan uang yang aku dapatkan untuk membiayai adikku melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Ibu bukankah ini adalah berkat doamu… makasih oh ibu.. Makasih ya Allah.

Sekarang, di sini, di tempatku menyusun kepingan puzzle cita-cita dan bahagia, aku temukan diriku menangis dan tertawa bergantian. Aku temukan diriku berkecukupan dan kekurangan bergantian. Aku dapati aku sudah sedikit bisa menghidupi diriku sendiri dan adikku, walau terkadang gelombang ombak tidaklah kecil aku hadapi. Tapi aku yakin, aku akan berhasil menggapai kebahagiaan yang aku cita-citakan.
Namun terkadang aku masih merasa sedih dalam keoptimisanku. Aku masih terkatung-katung di tengah-tengah lautan cita-cita tanpa aku lihat tepiannya. Ah semoga perahuku lekas berlabuh di pelabuhan besar tingkat internasional. Ah semoga mentalku masih mental juara. Semoga mentalku masih mental serang pejuang. Semoga mentalku masih mental seorang perantau yang tak pernah putus asa. Dan semoga adikku juga mempunyai mental-mental seperti itu.

Ibu, doakanlah kami berdua. Doakan kami sebagai anak-anakmu yang engkau sayangi dan kasihi. Doakan kami agar cita-cita kami tercapai. Doakan kami supaya kami lekas berlabuh dalam pelukanmu kembali duhai ibuku tersayang. Aku kangen, Bu…7:12:35 AM

read more
4 comments

PELAJARAN TANGIS DAN TAWA

Aku terbangun dalam keheningan malam. Aku sadar. Ini adalah niatku. Aku berniat untuk lebih akrab lagi dengan Tuhanku. Ya Tuhanku. Tuhanku yang telah memberi aku hidup ini. Tuhanku yang telah memberi aku keluarga ini. Tuhanku yang telah memberi aku begitu banyak kasih dan sayang. Ya Tuhan, aku ingin selalu bercumbu denganMu, namun egoku terkadang mengalahkanku.

Aku hidup. Karena Tuhanku. Ia telah memberi aku kesempatan menghirup dunia ini sejak 26 tahun yang lalu. Aku lahir lahir di enam November—yang setahuku berbarengan dengan lahirnya wanita berjiwa besar negeri ini, ibu Siti Nur Fadhillah, mantan menteri kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu I. Aku bangga dengan tanggal lahirku. Aku juga bangga dengan bintang. Scorpio. Walau sejujurnya aku juga tidak tahu banyak dengan bintang itu untuk apa. Bahkan sering kali aku bertanya-tanya ketika membaca ramalan bintang, baik di majalah atau juga yang tertulis dikoran, kok bisa yach hampir sama dengan yang aku jalani dalam hidup ini. Ah peduli amat. Aku tak mempercayainya karena dulu aku ditegur oleh pamanku suatu kali saat membaca begituan.

Hidupku, menurutku, adalah sebuah perjalanan pembelajaran. Pembelajaran semua mata pelajaran. Pernah aku belajar mata pelajaran menangis. Ya. Itu terjadi saat aku lahir di dunia ini. Kata ibu, aku sering menangis waktu kecil. Bahkan ketika beranjak anak-anakpun aku masih sering menangis. Terutama saat pulang sekolah dasar dan tak ku temui ibu di rumah. Aku langsung nangis di depan pintu. Tidak mau masuk rumah. Tapi malah menjerit-jerit memanggil nama ibuku. (sepotong kenangan yang masih aku ingat. )

Pelajaran ini terulang saat aku di akhir semester dua di tahun keduaku duduk d sekolah menengah. Saat itu aku sakit tipes. Seminggu aku terbaring. Menginap di klinik pondok pesantren. Di tambah tidak punya uang—maklum aku termasuk santri yang jarang dikirim oleh ortuku, aku pun berniat meminta uang kepada ayah yang sedang berdagang di Jakarta. Namun yang terjadi sungguh sebuah hal yang tak pernah aku bayangkan. Aku dimintanya pulang. Pulang ke rumah dan tak kembali ke pondok untuk selama-lamanya. Oh sedihnya aku. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas permintaan ayah “Nak, ayah dan ibumu sudah tidak sanggup ngirimin kamu uang lagi. Pulanglah. Hentikan studimu. Di Jakarta ayah kesulitan mencari uang”. Gdubraaak… Andai dibelakangku tidak ada dinding KBU mungkin aku jatuh. Tapi syukurlah aku masih bisa menahan semuanya. Sejak itu aku pun berjuang untuk bisa menyelesaikan studiku tanpa bantuan dari ayah dan ibu. Ups, tidak! Aku masih bantuan dari beliau berdua. Ya aku masih memintanya untuk maaf, bersabar dan berdoa untukku.

Aku meminta maaf kepada orang yang sangat aku sayangi itu karena aku tidak menurutinya untuk berhenti sekolah. Aku akan teruskan sampai lulua. Aku berpikir masa hanya cuma satu tahun lagi saja aku tidak sanggup menyelesaikan studiku. Aku harus bisa. Aku pun meminta beliau berdua bersabar untuk beberapa hal. Pertama, karena aku nggak menurutinya. Kedua, karena kesulitan mencari uang. Ketiga karena anaknya jauh dari rumahnya. Bukankah orang tua sangat khawatir saat anaknya berada jauh dari keduanya. Dan yang terakhir aku meminta keduanya untuk berdoa. Selalu berdoa. Baik untukku yang punya tekad—bukan nekad—untuk menjalani studi tanpa kiriman uang dari beliau, maupun berdoa untuk keluarga semoga keuangan keluarga kembali membaik. Dan berkat sabar, restu dan doa beliau berdua, Alhamdulillah di tahun 2003 (aku juga dapat pelajarn tersenyum dan tertawa bahagia) aku bisa menyelesaikan studiku dengan hampir sempurna. Bahkan aku tak menghiraukan apakah wisuda nanti orang tua datang atau tidak. Aku tak peduli. Namun Allah Maha Mendengar dan Maha Sayang sama hambaNya. Malam sebelum aku di wisuda ayahku tercinta datang dengan pamanku tersayang. Pagi harinya aku menangis dalam pelukan serang ayahku yang sangat aku banggakan. Terima kasih ayah… terima kasih Tuhan… Aku tahu alasan kenapa ibu tidak datang. Kalianpun pasti bisa menebaknya.

Kembali aku terima pelajaran menangis ini di bulan ramadhan tahun 2004. Saat itu aku sudah mengajar di MTs Al-Mu’minien. Ya aku mengabdikan diriku di pesantren yang membantuku menyelesaikan studiku. Ramadhan itu, liburan, aku pulang ke rumah tanggal dua puluh dua. Keesokan harinya, saat aku wiridan usai menunaikan shalat dluhur berjamaah bersama adikku terdengar deru mobil memasuki pelataran rumahku. Aku heran. Aku belum punya mobil kok sudah ada mobil yang datang ke rumahku. Aku pun heran, tak mungkin mbak pulang dari luar negeri tanpa memberi kabar. Usai kututup doaku, aku menyongsong ke sana, dan langkahku berubah menjadi lari saat aku tahu ayahku yang aku banggakan tak sadarkan diri dalam tanduan beberapa pamanku. Dengan tergopoh aku mendahului mereka masuk. Aku siapkan tikar dan kasur. Menggelarnya di ruangan tengah. Ibu menangis tak tertahan. Pertanyaan tak henti-hentinya keluar dari mulut ibu. Adikku diam tak bergerak melihat semuanya terjadi.

Setelah ayah dibaringkan dan semuanya tenang, paman mengatakan “ayahmu jatuh, nak, tepatnya saat ia sedang menggiling bumbu di depan kontrakan. Ia jatuh dan langsung tak sadarkan diri. Aku yang sudah berangkat jualan, disusul oleh pamanmu ini” sambil menunjuk paman keduaku. “akhirnya kita putuskan untuk membawanya pulang” lanjutnya.
Setelah dapat masukan dari berbagai kepala—ada yang melontarkan ide dib aw ke rumah sakit saja, ada juga yang bilang di rawat di rumah saja—aku putuskan untuk mencoba merawatnya di rumah dan dengan bantuan tetangga sekaligus guru agamaku, aku menjemput ustadz Shoim yang katanya sering menangani penyakit seperti ini. Dan ternyata ayahku di vonis kena stroke. Subhanallah… air mataku menangis. Bukan saja sejak dengar vonis itu. Tapi di awal aku tahu ayah sakit tak sadarkan diri.

Di hari ke 34, setelah menjalani berbagai macam terapi dan perawatan dari ust. Shoim, ayahku sudah bisa bangun dan tersenyum lagi. Bahkan ia memintaku anak laki-laki satu-satunya menuntunnya jalan-jalan. Melemaskan kaki, katanya. Dan dengan senang hati aku menuntunnya, menjaganya dan menyuapinya makan saat ia butuh makan. Hari-hari itu adalah hari-hari aku juga mendapatkan pelajaran tersenyum dan tertawa di sela-sela pelajaran menangis. (sobat ternyata di balik setiap sesuatu ada sesuatu yang lain. Percaya dech…)

Dan tepat di hari ke 40 Allah sangat merindukan ayahku tercinta. DipanggilNya ia. Tepat jam 00.30. hari jum’at. Tiga hari sebelumnya ayah terjatuh dan tak sadarkan diri selama itu sampai Allah memanggilnya. Beberapa setelah hembusan nafas terakhir ayah, setelah aku tersadar dari tangis, aku kabari semua orang yang aku kehendaki. Termasuk pengasuh pondok pesantren Al-Mu’minien yang juga aku pinta doanya. Jam 9 pagi jenazah ayah dishalati di masjid samping rumah. Begitu hendak diusung ke pembaringan terakhir kembali aku dikejutkan sebuah mobil bagus berhenti di jalan depan rumahku. Kemenakanku berlarian ke arahku yang sedang mengusung jenazah ayah, “kak ada tamu”. Aku terbengong. Aku berikan usungan itu ke paman yang berada di sampingku. Aku hampiri tam itu. Dan ternyata antara tangis dan tersenyum bahagia aku mengetahui bahwa yang datang adalah kyai. Aku menyalaminya dan mempersilahkan masuk. Namun beliau bilang “kita shalati dulu jenazah ayahmu”. Maka atas komando paman jenazah yang sudah keluar dari masjid kembali masuk dan di shalati oleh beliau dan beberapa teman pengajar PP. Al-Mu’minien. Aku lihat ibu, yang sesenggukan didekati oleh ibu Nyai dan beberapa ustadzah. Aku nggak tahu apa yang beliau bicarakan. (kembali palajaran tawa dan senyum aku dapati di tengah-tengah pelajaran tangis aku terima).

Bahkan kini, banyak sudah pelajaran tangis dan tawa diajarkan padaku hampir secara bersamaan. Aku mensyukurinya. Aku sungguh sangat bersyukur pada Tuhanku, Allah SWT, yang telah dan terus mengajariku berbagai pelajaran yang sangat dan tiada kira harganya. Karenanya aku berniat untuk lebih dekat denganNya. Aku ingin lebih lama berada dalam dekapan kasih sayangNya. Aku ingin tidak jauh dariNya. Monday, November 16, 2009

read more
0 comments

TEGURAN...


Aku tersentak kaget begitu membaca sms dari kemenakanku. Walau aku tahu ini Cuma bercanda, tapi tetap saja bikin aku kaget setengah mati.

“kang ana salam sing malaikat”

Anganku melayang menuju sebuah kejadian yang baru setengah jam berlalu menimpaku. Main bola dan terjatuh sehingga tulang dan otot lututku berubah tempat. Lututku bengkak. Bahkan tidak bisa aku tekuk untuk berjalan. Sehinga dengan terpaksa aku digendong teman-temanku. Sampai di kamar aku lihat jam 17.06. ah bentar lagi aku harus ke mushola. Aku bangun. Tapi ah… sakitnya minta ampun. Bahkan aku nggak bisa gerakkan kakiku sama sekali. Untuk berubah posisi dari teaku rlentang ke tengkurap saja sulitnya sangat. Akhirnya aku tertidur dan bangun saat dering hp berbunyi. 1 mesaage. Aku buka dan aku temukan sms di atas.

Aku terhenyak. Terlebih aku baru ingat aku belum shalat maghrib dan isya. Subhanallah… bagaimana ini terjadi? Ya aku tertidur saat “menikmati” kesakitanku dan aku baru bangun setelah dua jam kemudian. Pukul 20.04

Sms itu terus menghantuiku. Oh.. seandainya benar malaikat menjengukku, apa yang akan menimpa diriku. Beruntung bila ia malaikat pembagi rizki, gimana kalau malaikat pencabut nyawa? Oh tidak…

Ah, aku jadi teringat kejadian tahun 1999. Saat aku sakit tipes di pesantren, di Cirebon sana. Saat itu aku sudah 3 hari tidak masuk kelas. Aku istirahat di kamar. Sekitar jam 11.45 aku tertidur. Kepalaku berada di sebelah utara. Kaki ada di sebelah selatan. Aku tutup rapat. Aku bermimpi dalam tidurku. Aku bermain-main dengan adikku tersayang yang masih kecil saat itu disebuah taman yang indah. Sunggguh indah sekali. ibuku juga ada di situ. Saat ibuku pergi dan aku mengejar adikku yang di belakang ibu, aku dikejutkan oleh seseorang berbaju putih. Memakai tutup kepala juga putih. Tutup kepala itu menyambung ke bajunya dan bahkan ke bawahnya juga. Yang semua anggota tubuhnya tertutup karenanya. Aku sama sekali tidak mengenalnya. namun ia mengajakku pergi ke sebuah tempat.
“ayo ikut aku sebentar”
“Gak ah. Ntar ibuku nyari’
“gak kok. Cuma bentar!” katanya agak tegas.
“Gak ah gak mau!” aku jawab tegas juga mengimbaninya.
Seketika itu ia menarik tanganku. Aku terbelalak kaget. Dan aku melihat jam pukul 11.50. sungguh nyata. Ya jamitu adalah jam dinding di kamarku. Aku melihatnya dengan jelas jam berwarna putih bergaris-garis hitam itu menunjukan jam 11.50. sudah masuk waktu dluhur. Bahkan, samar terdengar suara azan dari masjid.
“ayo ikut aku sebentar saja” orang itu masih mengajak dan menarik tanganku.
“gak mau. Aku belum shalat. Aku shalat dulu” teriakku ketakutan.
Terjadi tarik menarik antara aku dan dirinya. Dan anehnya begitu tanganku terlepas darinya, aku merasa ada yang keluar dari hidungku dan kembali masuk ke dalam diriku lagi. Saat itu aku berpikir dia adalah malaikat yang menjemputku. Malaikat pencabut nyawa. Makanya aku nggak mau ikut dengannya. Aku belum siap. Belum banyak amal sholeh yang aku perbuat. Apalagi aku belum shalat dluhur. Jadi aku berontak sekuat mungkin.
Eh ternyata sobat, tahu nggak? Dia bukan malaikat. Tapi… ah, tidak jadi aku kasih tahu deh. Cukup aku, beliau dan dia saja yang tahu.
Kembali dengan keadaanku saat ini.
Aku bangun dengan begitu sangat sakit kurasakan di bagian lututku. Aku terpaksa berjalan merambat tembok kamar. Sampai kamar mandi hampir saja terjatuh saat aku menumpukan beban tubuh pada kaki kananku yang terluka. Usai ambil air wudlu aku shalat. Dengan duduk menjulurkan kaki aku shalat, ini aku lakukan ijtihad (duh gayanya make ijtihad segala…) setelah aku coba untuk menekuk lutut tapi nggak bisa. Ah, bukankah Allah Maha Melihat dan Maha Rahman.

Usai shalat sms itu kembali aku baca. Ya Allah, apakah ini adalah teguranMu? Ya. Atau bukan, aku tak peduli. Aku menganggapnya adalah teguran bagiku. Bagi seorang aku yang telah begitu banyak dosa aku lakukan.
Bagiku, jatuhku adalah teguran. Teguran karena begitu seringnya aku berbuat dosa dengan tangan dan kakiku. Teguran dari Allah yang masih menyayangiku. Teguran yang sangat mengena. Ya. Aku harus berhenti. Aku harus menghentikan kebiasaanku berbuat dosa. Dosa yang telah banyak aku perbuat. Astaghfirullah… Ya Allah… ampuni dosa-dosa hambaMu yang hina ini. La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimien… Astaghfirullah…

Bagiku sms itu juga adalah teguran untukku. Teguran agar aku bersegera tobat. Karena ajal tak pernah ada yang tahu kapan datang. Malaikat pencabut nyawa tak pandang waktu dan keadaan kapan ia datang. Begitu ia perintahkan, maka ia tak menunda waktu. Ya. Aku harus cepat-cepat bertobat. Tobat yang sesungguhya. Bukan tobat sambel. Apalagi tobat kacangan. Tobat yang tak berkelas.

Astaghfirullah…
Astaghfirullah…
Astaghfirullah…
La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimien…


read more

Sunday, November 15, 2009

Sunday, November 15, 2009 | 0 comments


Seandainya ada sekolah mental, mungkin akan banyak yang mendaftarkan dirinya disekolah tersebut demi sukses menjalani hidup. Bukankah keberhasilan dalam hidup itu disaat kita dihadapkan pada masalah. Karena di sini kita dituntut untuk pinter dan pandai mengelola mental dan emosi kita.



Attitude, sebuah sikap yang sangat penting. Ciri orang hebat adalah mempunyai attitude yang baik. Juga bagus. Tahu bersikap dan menempatkan diri pada posisi yang tepat. Attitude inilah yang kita sebut mental. Sikap saat menghadapi masalah hidup. Apakah kita terus fight ataukah menyerah. Apakah kita harus menangis nyerah ataukah terus berjuang walau darah mengalir deras? Apakah kita harus berani atau takluk di hadapan masalah? Itulah attitude. Sikap. Mental.

Pada saat kita terkena musibah, bisa dilihat kemampuan kita. Apakah putus asa? Ataukah menjalaninya dengan penuh kesabaran? Apakah kita menyalahkan orang lain ataukah introspeksi? Apakah kita terus merutuki nasib atau bangkit kembali menata puing-puing yang telah berserakan? Apakah kita bunuh diri karena prustasi ataukah kembali berdiri di kaki sendiri?



semoga adik dan ponakan-ponakanku mempunyai mental hidup yang bagus. punya attitude yang mantap. dan yang terpenting semoga sukses dalam hidup. amien...

read more

Tuesday, November 10, 2009

Tuesday, November 10, 2009 | 0 comments
Sungguh, DILUAR KEMAMPUANKU



Sungguh ini sangat sulit. Dia marah padaku. Adikku tersayang marah padaku gara-gara aku tidak nyambang dia. Dia minta keluar sebentar. Aku katakana sebentar karena hanya beberapa jam. 10 jam paling lama. Bisa juga kurang. Ia hanya ingin refresing. Ingin menyegarkan suasana. Hati. Juga pikiran.

Ia ingin ke warnet. Ia ingin berselancar di alam maya. Ia ingin, yah hanya sekedar penyegaran. Ntah ke Turen. Jalan-jalan. Bisa juga belanja. Bisa juga hanya buka email dan facebook. Lalu makan di jalan dan pulang lagi. Ntah juga kampusku. Itu yang ia bilang padaku saat malam harinya.

Ia pernah ke kampusku saat aku mengajaknya keluar. Aku ajak ia ke kampus. Menemaniku. Walau ia sendiri sebenarnya aku tinggalkan di luar ruangan saat aku kuliyah. Ia kuajak ke kampus saat aku masuk kuliyah agak siangan. Dan ia hanya bisa keluar setelah jam 8. sedang aku berangkat jam 9. Saat itu.

Sungguh itu bukan mauku. Tapi ini emang diluar kemampuanku. Bukan aku nggak sayang sama adikku. Bukan aku nggak mau ia refresing. Aku juga, bahkan semua orang butuh refresing, termasuk adikku yang dah lama terkurung dalam lingkungan yang sempit dan penuh aktifitas yang monoton.

Hari itu aku harus berangkat pagi. Ya pagi. Sebelum jam 7. Karena aku presentasi jam 7. Aku harus berangkat pagi walau aku cuma siap limapuluh persen mungkin untuk presentasi. Namun aku nekad dan bertekad melakukannya. Aku berangkat pagi.

Pikirku, adik bisa keluar setelah Lia nyambang dan Iyah ikut keluar bersamanya. Atau bisa juga ikut keluar bersama orang lain. Ntar nyusul ke kampus. Atau aku jemput.

Namun kenyataan berkata lain. Ya, lain sekali. Semua diluar kemampuanku. Semua diluar dugaanku. Aku berangkat jam 6.30. Setengah jam kemudian aku sampai kampus namun belum banyak yang datang. Bahkan dosen pun belum. Dan yang sangat aku sesalkan—tapi juga menggembirakan—presentasiku diundur 2 minggu ke depan.

Sesal karena aku sudah meninggalkan adik sendirian. Dan juga bukankah 2 minggu ke depan juga waktunya sambangan? Waktunya adikku bisa keluar lagi. Itu pertanda aku nggak bisa berangkat agak siangan, membawanya ikut serta. Oh, my God. Please help me…

Menggembirakan karena sejujurnya aku juga bisa menyiapkan lebih matang presentasiku. Aku bahkan bisa nyari informasi lebih banyak. Bahkan bisa menyiapkan beberapa pertanyaan pada kelompok lain yang akan presentasi juga. Ah…. Semua memang berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Bila Ia mau maka terjadilah. Bila Ia tidak mau maka tidak akan terjadi.

Lia pun yang aku andalkan bisa mengajak adikku keluar ternyata nggak bisa. Ia nggak datang untuk adiknya. Tidak nyambang. Adikku pun segan—untuk ikut .
maafin kakak dik, gara-gara kakak iyah jadi gini. maafin kakak, sungguh bukan maksud kakak untuk tidak mengajak yah keluar. hanya saja kakak kemarin bener-bener gak bisa dik. maafin kakak dik. sungguh kakak minta maaf.

read more

kambing etawa

kambing etawa
kambing gemuk makan fermentasi gedebok

silahkan coba...!!!

Blog Archive

Hidup tak akan memberimu apa-apa kecuali kau memaknai hidup dengan caramu...
 

Express

Seorang kawan yang mendampingi kita pada saat kesulitan lebih baik dari pada seribu
kawan yang mendampingi kita pada saat kebahagiaan.


Berkata benar dapat sangat menyulitkan bahkan beresiko ditolak. Tetapi itulah satu-
satunya pilihan jika kita membangun hubungan yang baik.

Anak lebih membutuhkan bimbingan dan simpati dari pada instruksi.

The Good Father

The Good Father

MoTivE

Bila saat ini kita belum berhasil dan sukses bisa jadi karena kita belum bekerja keras, berfikir cerdas dan beramal dengan benar.


Saat menunda amal sholeh berarti kita sedang menunda kesuksesan dan kebahagian.


Seseorang mulia bukan karena apa yang dimilikinya tapi karena pengorbanannya untuk
memberikan manfaat bagi orang lain.