Tuesday, May 20, 2008

Nggak (belum) jadi, De...

Tuesday, May 20, 2008 | 0 comments

Sms. Ya. Sms itu. Sms yang ade pinta supaya aku mengirimkannya kepada dede, sampei sekarang tidak aku kirimkan. Bukan aku mau membantah permintaanmu. Tapi, tidakkah ade pikirkan bagaimana perasaannya kelak ketika ia menerima dan membacanya? Dia yang telah lama tidak aku hiraukan. Dia yang sudah berulang kali aku anggap nggak ada. dia yang tidak kapok-kapoknya menghubungiku walau hanya membuang pulsa tanpa menghasilkan apa-apa. Dia yang selalu mengirim sms tanpa ada balasan yang aku kirim. dan kini dia telah menghentikannya. aku bersyukur karenannya.

Cukuplah kecuekanku yang menyakitinya. cukuplah ego-ku yang membalas budi baiknya. cukuplah kesombonganku yang menghajarnya. cukuplah ke-tega-anku menghempaskannya ke dalam kesakitan dan keniscayaan.

aku nggak mau menambahnya sakit lagi. aku nggak ingin ia bertambah sedih dan merana karena sms ade itu. aku membayangkan apa yang terjadi seandainya ia menerima sms dan mebacanya. aku yakin dia akan patah. bukan patah lagi bahkan tapi hancur berkeping-keping. dia akan merana seumur hidup karena sms itu. bahkan dia akan merasa bersalah tanpa berkesudahan.

ade, maafkan aku yang tidak mengirimkan sms itu.
maafkan aku yang masih mempunyai rasa belas kasihan kepadanya. setidaknya demi menjaga hubunganku dengan keluarganya. setidaknya demi rasa kemanusiaan. setidaknya atas nama persahabatan, aku nggak ingin merusak ikatan ini dengan kakak dan keluarganya.

bukan karena aku sayang sama dia. bukan pula karena aku mencintainya. sama sekali bukan. maafkan aku, de. aku tidak tega melihatnya seandainya dia lebih menderita dari sekarang.

cukuplah dia menderita karena tidak mendapatkan kasih sayangku. cukuplah ia bersedih karena cintanya tak terbalas.


ade... tahukah engkau, sebenarnya sudah lama ia tidak menghubungi aku lagi. jangankan telpon, sms-pun tidak. tapi entah kenapa, saat aku bersama ade--habis bedah buku itu--dia kirim sms. aku nggak menyangka sama sekali. dan tahukah engkau, de? aku tak pernah menganggap sms itu ada.

bila dulu ia mengirim sms akan tetap mengharapkanku. maka biarkan dia terus berharap tanpa ada ujung. biarkan dia terlarut dalam penantiannya. biarkan dia tergenang dalam peliknya cinta. bukankah begitu hidup de?

semoga ade bisa memahami pikiranku ini. semoga tulisan ini bisa mengungkap alasan kenapa aku tidak mengirimkannya (sms itu). semoga ade memakluminya. dan yang terpenting adalaha semoga aku bisa terus bertahan dengan semua masalah hidup ini. semoga...

Sunday, 18 May, 2008 16:44:55

read more

Maafin aku Gus...

0 comments

110508....

hari yang tidak bisa aku lupakan. ini karena hari yang tidak pernah aku bayangkan. telah terjadi suatu hal yang tak pernah aku sangka. hal sepele mungkin, tapi ini sangat special bagiku. (special make telur kali...)

saat santai...
saat aku menikmati hidangan dari anak-anakku...
saat aku mau makan bersama-sama mereka,
saat itulah Rizal, memanggilku. memanggilku disuruh gus fahim. ditunggu di kantor yayasan.

deg... jantungku berdebar. (lho... bukankah memang jantung slalu berdebar?) no...! ini nggak seperti debarannya yang biasa. ini sangat jelas aku rasakan. ini sangat istimewa. sangat beda. sangat lain. ingin tahu apa yang akan terjadi. aku menerka-nerka.

apa berhubungan dengan alamat lengkapku yang kemarin diminta pengurus? apa karena kejadian ampel 4? apa karena rizal? apa karena....

semua kemungkinan berkelebat. bergantian. satu persatu. ada apa gerangan...
ach... datang saja.
ternyata...
aku dipanggil--ditegur--karena aku telah menulis sesuatu yang tidak pantas untuk di-posting di blog-ku. aku diminta merubahnya. aku diminta untuk meng-ekplisitkan-nya. tanpa menyebutkan angka eksak. ya! aku harus merubahnya--setidaknya untuk tidak menghapus posting itu.

maka dengan penuh patuh dan rasa hormat, aku pun merubah tulisan itu. tidak! buka merubah tapi menghapusnya (satu kalimat penuh) karena memang aku merasa substansinya sudah tak diperlukan lagi.

"maafin saya, Gus"
"maafin keteledoran saya. sungguh tak ada niatan secuilpun untuk membukanya di depan umum. aku hanya menulis apa yang kurasa. itu saja. tidak lebih. aku hanya menulis apa yang aku anggap perlu diketahui oleh Mbak (yayu-ku) di luar sana. maafin saya, sekali lagi, aku pinta maaf antum."
###

Di sisi lain, aku memikirkan semua tulisanku. Beliau pasti membacanya. tapi tak apa. itu memang isi hatiku. itu adalah apa yang terjadi padaku. seorang remaja yang.....
ngawur...
urakan...
nakal...
bandel...
pengen slalu bebas...
tak bisa diatur...
kreatif...
penuh gejolak...
pengen ada inovasi...
selalu suka hal yang beda...
nggak mau ngekor...
selalu mempertanyakan hal yang dah lazim...

tapi,
insya Allah, bertanggung jawab
dan
mau diajak diskusi.

sekali lagi maafin atas keteledoran yang tak sengaja aku perbuat ya gus...

read more

Monday, May 19, 2008

Kuliah...

Monday, May 19, 2008 | 0 comments


Kenapa tiap kali aku mendengar kata itu atau kata yang ada kaitannya dengannya aku merasa jengkel, marah, cemburu, dongkol, bahkan ingin sekali aku tidak mendengarnya.

Kenapa kuliah harus diutamakan? Kenapa kuliah yang menjadi ukuran gengsi atau tidaknya seseorang? Apa gerangan yang mengakibatkan kuliah dipandang sebagai bentuk kehormatan seseorang? Ada apa dibalik semuanya yang selalu memakai kuliah sebagai bentuk sukses atau tidaknya seseorang?

Salahkah bila aku tidak kuliah? Salahkah bila aku, yang tidak mempunyai biaya ini tidak mengambil jalan yang sama dengan yang lain untuk kuliah? Salahkan bila kuambil keputusan untuk lebih memilih hal lain dari pada kuliah?

Ini bukan tanpa alasan. Bukan juga sebuah pilihan asal pilih. Jujur, di balik kedalaman hati, diri ini sangat berminat untuk aktif kuliah. Namun bila aku, karena sebuah realitas, tidak kuliah, apa aku salah? Kalau emang iya, maka merugilah aku... Sengsaralah diri ini...

Inilah sebuah liku hidup yang harus aku ambil dan nikmati. Aku lahir dari sebuah keluarga yang tidak kenal baik dengan pendidikan. Ayahku hanya lolosan kelas 3 SR. Ibuku lebih parah, beliau wanita yang aku kagumi dan aku sayangi ternyata tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Karenanya jangan salahkan beliau kalau kamu sms atau kirim surat tidak menerima balasa darinya. Karena emang beliau tidak bisa baca tulis. (Lalu apakah ia dikatakan Ummi? Sebagaimana Rasulullah yang tidak bisa baca tulis dikatakan Ummi)

Syukurlah keadaan ekonomi keluargaku membaik saat ayahku masih kuat bekerja walau jadi buruh tani. Beliau atas bujukan dan desakan adik keduanya, Mang Hakam, menyekolahkan anak pertamanya ke sebuah pesantren. Sebuah harapan supaya berbeda dengan kedua orang tuanya. Begitu pula dengan aku. Usai lulus SD aku diboyong pamanku ke pesantren. Dari sanalah cahaya tarbiyahku hidup. Aku mulai mengenal "buku" dan sedikit "tulisan" walau masih terbatas. Di sana juga aku kenal dengan Hasan Al Banna, Moh. Abduh, M. Ikbal dan lain-lain yang dari mereka aku ketularan semangat jihadnya. Akupun bertekad untuk terus berjuang di dunia pendidikan. Belajar dan (belum) mengajar.

Usai menamatkan SLTPku, kucoba meniti asa di sebuah pesantren modern di daerah seberang. Di tahun terakhir aku menyelesaikan studyku, rintangan makin jelas menghadang. Ayah dan ibuku meminta aku berhenti sekolah dikarenakan beliau berdua sudah tidak sanggup membiayaiku. SLTAku pun terancam gagal. Namun berbekal tekad yang kuat aku berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaijan SLTAku yang tinggal satu tahun lagi.

Akhirnya dengan bantuan seorang Kyai di daerahku, aku bisa mendapat kesempatan menamatkan SLTAku. Dan untuk menutupi kebutuhan belajarku aku banting setir menjadi bagian dapur yang sering dilecehkan oleh adik-adik kelas ketimbang posisi lamaku di bagian pembinaan bahasa yang super keren. Nggak apa-apa. Demi keselamatan belajarku.

Saat aku mau masuk bangku kuliah, Allaah memanggil ayah tercintaku, secara otomatis aku harus menggantikan beliau di dalam keluargaku. Akupun mencoba untuk tegar dan kuat menjalaninya. Setidaknya aku punya satu tanggung jawab yakni menyekolahkan adikku tercinta.

Saat itu pula adikku lulus SD dan meminta untuk masuk ke pesantren. Namun mengingat aku belum bisa, maka aku janjikan setelah lulus SMP ia bisa belajar di pesantren. Dengan besar hati ia pun menjalani hari-hari SMPnya di desa. Sekolah baru saja berdiri dengan segala kekurangannya. Saat itu pula aku bisa mendaftarkan diri kuliah di sebuah perguruan tinggi yang tak terkenal. Namun tak mengapa. Aku mencari ilmunya. Bukan namanya.

Kini saat adikku lulus SMP dan aku sudah dalam tingkat 3, aku juga harus memondokkannya, sebagaimana janjiku dulu. Secara otomatis aku harus mengalokasikan budget yang ada untuk sekolah adikku. Ini prioritas pertama. Aku pikir, lebih baik, sekali lagi ini menurutku, lebih baik kuliahku yang terhenti dari pada sekolah adikku.

Dan untuk itu aku harus bisa membagi waktuku dalam ke beberapa hal. Yakni pertama, menjalankan tugas-tugas pondok yang (seandainya jadi) telah memberi keringanan biaya pendidikan adikku. Karena aku tidak mau dikatakan orang yang tahu balas budi. Kedua, aku pikir, untuk bisa terus melanjutkan kuliah aku harus mencari tambahan pemasukan. Karenanya aku memutuskan untuk melamar jadi pengajar di salah satu lembaga terdekat. Jadi aku harus punya waktu untuk mengajar di sana. Ketiga, karena tugas pondok dan mengajar yang aku prioritaskan maka tak apalah kuliahku tidak mengambil 24 sks penuh. Kemungkinan cuma mengambil 12 sks-an. Kuliah dua hari. Supaya aku punya waktu untuk menjalankan tanggung jawab pondok dan tugas mengajarku. Keempat, aku nggak terlalu memedulikan yang ini. Tapi terkadang memang sangat menjadi pikiranku. Setidaknya aku cepat memilikinya sepenuhnya. Menikahinya. Tapi... Mungkinkah? Padahal di saat yang sama aku belum lulus kuliah, punya tanggungan adik, harus balas budi, dan juga belum punya pegangan.

Aaauhhhh... pusingnya.. Tapi tak apa. Bukankah hidup tak indah bila tak ada masalah? Bukankah semua menjalani hari dengan cara masing-masing?

Semoga aku menjalani hariku dengan cara yang terbaik. Cara yang penuh barokah. Cara yang diridloi-Nya. Amien... Ya Robbal Alamien...

read more

Wednesday, May 14, 2008

Malam 3.33

Wednesday, May 14, 2008 | 0 comments
Yayu...
Di sini, di kantor mim ini, jam 3.33 tepat tanggal 2 bulan 5 tahun 08, willy menulis ini semua.

Semuanya willy rasakan begitu sulit. Namun wily yakin sesuatu yang sulit bukanlah sesuatu yang tidak bisa dikerjakan. Willy yakin akan mampu melaluinya. Toh walau terkadang willy juga bingung dan pusing memikirkannya.
Willy nggak tahu, apakah yayu sudah tahu atau belum wily cuti kuliah. Padahal ini bukan kehendak yang menyenangkan buatku. Aku harus bersedih karenanya. Namun sebagai kakak yang punya adik satu-satunya—walaupun iin juga sudah aku anggap sebagai adik sendiri—aku harus menyekolahkan adikku, Zuhriyatul Jannah.

Yayu…
Iyah sudah sejak lulus SD punya keinginan untuk mondok. Namun ia anak yang baik, ia tahan semuanya setelah kepergian ayah. Aku sedih jadinya. Awalnya aku ingin ia tetap mondok setelah selesai SD walau aku nggak yakin dengan biayanya, tapi ibu memintanya untuk menemaninya dulu di rumah sepeninggal ayah. Ibu bilang, nanti saja mondoknya kalau sudah lulus SMP.

Dan sekarang, ia akan lulus SMP dan aku sudah siap memperjuangkannya mondok, walau aku korbankan kuliahku, ibu masih meng”ganduli”nya. Ibu masih keberatan ditinggal sendirian di rumah. Ntar ibu nggak ada temannya di rumah,begitu ibu berkata.
Aku nggak paham alur pikiran ibu yang demikian. Seakan ia berpikir untuk dirinya sendiri di rumah. Seakan ia nggak memikirkan masa depan anak-anaknya.
Willy berpikiran dengan sekolah atau setidaknya merantau, kita akan punya bekal untuk hidup di masa depan. Bukankah dengan “keluar dari desa” akan membuat kita kaya akan pengalaman, akan lebih dewasa, akan mengetahui banyak hal yang tidak pernah kita bayangkan, akan mendapatkan apa yang kita tinggalkan di desa. Aku ingat pepatah Imam syafi’i “safir tajid ‘iwadlon amman tufariquhu”.

Aku nggak ngerti pikiran ibu yang menahan Iyah untuk tidak mondok atau sekolah. Padahal willy sudah bilang biarlah willy yang akan membiayainya melanjutkan sekolah. ibu nggak usah cemas. (padahal dalam hati aku berkata, aku bisa nggak yach mencari uang untuk membiayai kuliahku dan biaya mondok iyah).

Aku meyakinkan ibu untuk tidak usah memikirkan biaya iyah kalau Iyah aku bawa ke Malang. Tapi ibu keberatan. Karena, katanya Malang terlalau jauh, nanti ibu nggak bisa nengok.
Karenanya aku beri alternative lain, yaitu mondok dan sekolahnya di AL-MU’MINIEN LOHBENER saja. Tempat aku ngajar dulu. Willy sudah menghubungi Kyai, dan alhamdulillah respon beliau sangat menggembirakan, karena beliau akan membantu meringankan beban willy.
Tapi kenapa sekarang ibu berubah pikiran lagi? Kemarin saat willy telpon, ibu bilang kayaknya ibu nggak sanggup ditinggal Iyah. Ya, walaupun iyah tidak banyak membantu ibu di rumah tapi, ibu di rumah nggak ada temannya. Siapa yang nanti disuruh ke warung beli cabe? Siapa yang nanti disuruh ke Cipedang beli caos? Siapa yang nanti menaiki motornya? Siapa yang nanti nyuci piring kalau ibu cape? Begitu ibu mengeluhkan.

Apakah semua itu tidak ibu pikirkan sambil membandingkannya dengan masa depan Iyah? Masa depan seorang remaja di zaman yang seperi ini? Masa depan yang hanya bisa tercerahkan dengan sekolah.

Aduh…. Willy jadi pusing dan bingung dibuatnya Yu…

Terus, apakah willy harus pulang, menemani ibu di rumah? Dengan meninggalkan kuliah willy di Malang? Dengan meninggalkan pondok ini yang memberi willy uang 600 ribu lebih tiap bulannya yang bisa buat biaya kuliah willy dan sekolah Iyah? kembali ke rumah dengan nggat tahu akan bekerja apa di sana? Dapat uang dari mana? Bukankah willy nggak punya tenaga yang cukup kalau kerja di sawah? Bukankah di rumah willy nggak bisa ngajar kalau nggak bergelar sarjana?

Atau…

Apa willy lebih baik menentang ibu, dengan mengabaikan keadaan dan permintaan ibu?
Willy bawa iyah ke Malang tanpa memperdulikan perasaan ibu? Bukankah di Malang, Iyah bisa sekolah gratis? Bukankah keluarga Kyai di Malang bisa memberi dispensasi biaya mondok?
Atau dengan tetap memondokkan Iyah di Lohbener saja?
Atau membiarkan Iyah di rumah? Nggak sekolah. bergaul dengan anak-anak yang seperti itu? Membiarkan tiap pemuda datang ke rumah, main tiap malam?
Atau mencarikan Iyah kerja? Tapi dengan ijazah SMP, kerja apa? Jadi babu? Jadi TKW?
TIDAK… aku tidak rela dan ikhlas seandainya Iyah nggak sampai melanjutkan sekolah apalagi jadi babu atau TKW! Lebih baik, aku saja yang tidak kuliah. Lebih baik aku yang bekerja!

Pernah wily mencoba memahami ibu dengan memposisikan diri ini di posisi beliau. Seorang ibu yang ditinggal suaminya. Gelar janda yang didapatnya. Omongan tetangga yang didengarnya. Belum yang memanas-manasinya supaya iyah kerja di Taiwan atau Hongkong. Belum ditinggal anak-anaknya. Anak yang pertama ke luar negeri. Kerja. Anak ke dua ke Malang. Ngajar dan kuliah. Dan sekarang anak ke tiga mau pergi lagi. Mau melanjutkan sekolah. Anak pertama keluarganya berantakan. Sakit hati terus kalau memikirkannya. Anak kedua merantau terus. Nggak pulang-pulang sejak lulus SD. Kalaupun pulang cuma hanya sebentar. Paling lama 1 minggu. Anak ketiga, walau pun malas, tidak banyak membantu pekerjaan ibu di rumah, kini berniat meninggalkan rumah, mondok.
Willy kira, ibu tidak akan terbawa emosi yang feminimnya seandainya beliau berwawasan luas. Berpikiran maju. Beriman kuat. Dan berjiwa lillahi ta’ala.
Subhanallah… maafin willy, Bu… maafkan anakmu yang lancang berpikiran demikian. Maafkan anakmu ini yang nggak tahu harus berbuat gimana?

Ya Allah…
Berilah kami petunjukMu… Mudahkanlah kami dalam menjalani masalah-masalah ini. Mudahkanlah kami dalam menjalani cobaan-cobaan ini? Rahmatillah kami dalam mencari ridloMu ya Allah…
Kami memohon kehadiratMu ya Allah untuk memudahkan segala urusan-urusan ini demi menggapai ridloMu ya Allah…

read more

Saturday, May 10, 2008

UAN: antara ijazah dan ilmu

Saturday, May 10, 2008 | 0 comments


Ijazah…

Belajar itu wajib. Tak bisa kita sangkal lagi. Namun pernahkah kita pikirkan, kenapa kita nggak mau mengulang pelajaran yang dapat nilai buruk? Atau lebih jelasnya, kita nggak mau mengulang di kelas yang sama di tahun yang berbeda hanya karena kita belum mengusai materi yang kita pelajari itu?

Banyak yang protes dan demo saat tidak lulus UAN. Bahkan ada yang mengancam akan membunuh kepala sekolah atau guru yang tidak meluluskan muridnya. Padahal murid tersebut memang benar-benar tidak pantas untuk lulus karena jangankan bisa menjawab semua, seperempat dari 50 soal saja tidak ada yang benar. Intinya murid tersebut memang belum menguasai materi yang diajarkan. Manakah yang pantas : meluluskan murid tersebut atau diberinya kesempatan untuk belajar lagi supaya saat ujian tahun depan ia bisa menguasai materinya?

Namun bila kita telaah, kenapa mereka yang tidak lulus UAN berdemo, secara naluri kita memang memakluminya. Bayangkan betapa sait dan kecewanya hati, setelah 3 tahun belajar mati-matian—bukan mati beneran lho ya—namun itu terbuang sia-siang hanya karena tidak bisa menjawab 3 atau 4 lembar soal. Adilkah itu? Padahal selama 3 tahun kurang lebih, sudah masuk kelas dan membayar uang spp. Belum lagi uang jajan dan transport bagi yang sekolahnya jauh dari rumah. Lalu apakah perjuangan selama 3 tahun itu hilang terhapus sia-sia hanya dengan 3 hari.

Bukankah ijazah itu juga penting buat kehidupan kita. Tanpa kita mengenyampingkan ilmu yang juga sangat penting. Tanpa ijazah, seorang guru tak kan pernah diakui jadi guru. Begitu pula, seorang murid tak kan diakui menjadi murid kalau tidak ada ijazah. Bukankah ini penting. Terlebih lagi, akhir-akhir ini sertifikasi digaungkan jauh lebih membahana yang secara otomatis mendobrak betapa pentingnya satu lembar bukti kelulusan itu. Secara formula kita bisa merumuskannya sebagai berikut : ilmu itu isi dan labelnya adalah ijazah.

Mengenai adakah sekolah para nabi itu? Dan adakah ijazahnya? Kita bisa mencoba mencari jawabnya dari sejarah para nabi. Bukankah sejarah itu guru terbaik yang diciptakan Tuhan.

Nabi Muhammad, di masa kecilnya beliau menggembala kambing orang-orang kaya quraisy. Begitu pula nabi musa, sebelum diangkat menjadi nabi, beliau menggembala kambing nabi ya’kub yang jumlahnya ratusan dalam jangak 8 tahun lebih sebagai mahar pernikahan dengan putri beliau. Nabi Ismail dan ayahandanya, Nabi Ibrahim juga tak terlepas dari kambing-kambing yang beliau berdua pelihara. Kenapa demikian? Kenapa para nabi menggembala kambing? Hal ini sebagai latihan untuk memimpin umatnya. Di sanalah para nabi di sekolahlan. Di sanalah para nabi mendapat ilmu—selain juga dari wahyu—bagaimana memimpin dan menjada umatnya. Bukankah di padang pasir dan padang rumput banyak srigala dan hyena yang bisa sewaktu-waktu menerkam gembalanya? Di sinilah latihan menjaga umatnya dari bahaya. Bukankah di padang pasir dan padang rumput juga membingungkan bagi orang yang belum berpengalaman? Dari sinilah para nabi diajari bagaimana mengarahkan gemabalanya ke arah yang benar. Baik saat berangkat maupun saat pulang. Adapun mengenai ijazahnya, adalah pengakuan dan wahyu yang beliau-beliau terima dari Allah itulah yang bisa dikatakan ijazah.

Bukankah ijazah diberikan setelah sang murid berhasil mengkhatamkan dan menguasai pelajarannya? Dan bukankah wahyu diturunkan setelah para nabi berhasil menyerap berbagai macam ilmu dari menggembala?
Itulah sekolah para nabi. Sekolah alam. Sekolah murni untuk mendapatkan ilmu yang murni pula.

Kalau memang kita mengejar ilmunya bukan ijazahnya, kenapa kita tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar dengan sungguh-sungguh? Kenapa kita belajar saat ujian saja? Itupun ujian sekolah umum (SD/SMP/SMA) saja yang ada ijazahnya? Bahkan kita menganggap remeh ujian MIM. Bandingkan dengan ujian SD/SMP/SMA yang disertai dengan shalat hajat, wiridan dan meminta doa kepada setiap element ma’had. Kenapa? Apakah karena MIM itu—yang di dalamnya terdiri dari berbagau macam ilmu agama—nggak penting? Bukankah Allah bilang “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”?

Lalu bagaimana dengan niat Anda mencari ilmu? Apakah sebenarnya yang dicari? Ilmu atau ijazah? Atau mencari ilmu karena ijazah? Bukan mencari ilmu karna Allah (lillahi ta’ala). Kalau begitu sungguh Anda akan menjadi orang yang merugi. Bukankah tanpa diniati dapat ijazahpun kalau kita bener-bener belajar karena ilmunya nanti kita juga akan mendapatkan ijazahnya? So, what are you looking for now?

read more

Tuesday, April 29, 2008

maafin yach...(untuk nurhayati)

Tuesday, April 29, 2008 | 0 comments
Maaf….
Satu kata yang ingin aku ucapkan dalam menulis tulisan ini yaitu “maaf”. Maafkan aku karena telah marah kepadamu. Aku sudah marah-marah kepadamu, orang yang tidak tahu akan bagaimana keadaan kartuku. Aku telah marah-marah padamu tanpa aku berpikir bagaimana sebenarnya terjadi.
Baru setelah aku muhasabah diri (cie… muhasabah rek… gayanya..) aku ngerti sebenarnya aku nggak berhak marah-marah. Karena semua itu sebenarnya Dede lakukan demi kebaikan. Shodaqoh. Dan memang mau memberi hadiah kepadaku. Hadiah yang tanpa kuminta. Dan hadiah yang seharusnya aku nggak berhak mendapatkannya. Bukankah yang ulang tahun itu kamu? Kan seharusnya aku yang ngasih hadiah? Bukannya aku yang diberi hadiah. Ini merupakan pukulan telak bagiku. Sudah nggak ngasih hadiah, eh malah marah-marah. Malu aku dibuatmu…
So, please… maafin aku yach…
Kamu yang nggak tahu XLku di isi XTra, dengan niat baik, mengisi pulsaku sebagai hadiah ulang tahunmu. Dan aku, yang tanpa tahu sebelumnya, tiba-tiba melihat ada sms masuk ke dalam Inboxku. Dan sati miscall tertera dalam layar ponsel. Siapa nih yang miscall? Pikirku saat pulang dari musholla.
Pertama yang aku lihat adalah daftar miscall. “Dedeh?” dalam hati aku bertanya. Maksudnya ada apa miscall aku. Karenanya aku miscall balik. Aktif. Aku buka inboxku. “haaaah” aku lemes dibuatnya setelah aku membaca isinya. “nomor Anda telah terisi pulsa sebesar Rp.5.000…“.
“Ada apa Pak?” Khoirul, a’dloku bertanya melihat pengasuh kamarnya lemes. Mengeluh.
“Pulsaku ada yang ngisiin.” Gerutuku.
“Lho kan enak, Pak?”
“Enak apanya” jawabku sekenanya sambil marah
“Bonus Xtra-ku hilang. Padahal masih 4 hari lagi” Lanjutku.
“…?” Khoirul melongo. Ia nggak paham omonganku.
4 hari X 50 sms X Rp. 299,- = Rp. 59.800,-
Aah… lumayan deh buat orang miskin seperti aku. Aku langsung dongkol bukan main kehilangan bonus itu. Mana aku harus kirim sms tiap saat lagi. Kalau aku kirim sms dengan menggunakan program biasa, dengan pulsaku yang cuma tinggal 6,450 maka aku cuma dapat 6450:299 = 21 sms. Ah… rese banget nih. Siapa sih yang ngisi pulsaku…
Pikiranku melayang. Mengira-ngira siapa yang telah mengisi pulsaku. Aku marah banget dibuatnya. Dasar!! Sok kaya ngisiin pulsa orang…!
Edaaan…
Aku dongkol setengah mati dibuatnya.
Aku keluar kamar dengan menahan marah. Sambil berjalan menuju dapur pikiranku melayang-layang. Menebak-nebak siapa kiranya yang telah ngisiin pulsaku. Sekilas tersebersit dalam benakku. Hah… siapa tahu dia. Dia yang telah me-miscall aku. Ya! Dia! Awas yach…
Aku makan dengan menahan dongkol sebesar gunung di leherku. Pak Mahis dan Pak Diqun kena getahnya. Padahal mereka berdua tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi padaku. Hanya karena mau bertanya tentang tugas yang ia berikan padaku, Pak Mahis kena marahku. (Maafin aku ya Pak… Pak Diqun juga, Please…)Pak Diqun yang mau pamit sebentar keluar beli rokok. Juga kena sasaran marahku.
Aku telpon berulang-ulang. Namun tak ada jawaban. Ah aku sms saja. Aku pun ketik sms dengan lengkap. Tanpa ada singkatan atau gabungan kata. Aku benar-benar marah saat itu karenanya aku juga menuliskannya dengan huruf besar semua. Ntah Dedeh tahu atau nggak makna menulis sms dengan huruf besar. Yang pasti aku benar-benar marah.
ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BAROKATUH. TERIMA KASIH SUDAH MENGISI PULSAKU. WASSALAMU’ALAIKUM WARHMATULLAHI WA BAROKATUH.
Dedeh pun membalas.
Wa’alaikum slm wr,wb. Psti antum mrh krn aq dah isi plsa antm. Ya anggp sj dr org yg tdk antm knl.
Aku balas
MEMANG BENAR. NAMUN BOLEHKAN AKU JUJUR, DENGAN KAMU ISI PULSAKU RP. 5.000,- AKU KEHILANGAN BONUS XTRAKU SEBESAR RP. 60.000,-. TERIMA KASIH BANGET.
Aku yakin, Dedeh kaget dengan smsku. Karenanya dia membalas:
Bnr tah zhunk? Maafin aku yah. Pliss. Aku ganti yah…
Akupun balas dengan ketus. Dan tak pernah aku sms lagi setelahnya. Apalagi mencoba untuk menghubunginya.
TIDAK USAH. TERIMA KASIH BANGET PULSANYA.
Jreeeng…



Lama aku merenung. Berfikir. Dan menyendiri menetralkan emosiku. Aku teringat tahun kemarin. Aku juga pernah mengalami hal sama seperti ini. Yang mengisi wali santri. Ibunya Dani. Menanyakan padaku apakah pulsanya sudah masuk? Aku kaget setengah mati. Hah… ternyata belia yang mengisi pulsaku. Aku sudah marah-marah. Namun tentunya bukan pada sasaran yang tepat untuk aku marahin. Eh ternyata, beliu. Beliau hanya ingin berbuat baik. Ingin shodaqoh. Aku malu dalam hati. Orang berbuat baik kok disalahkan. Orang berbuat baik kok susah yach… pantas saja yach banyak yang berbuat jahat. Kan lebih mudah. Lebih asyik bahkan.

read more

cerpen

0 comments
EMANG GUE PIKIRIN…

Hari ini, hari pertama Ajai dan semua santri Almoen menikmati liburan di rumah. Ajai pun berniat mengamalkan nasehat romo kyai untuk tidak menghabiskan waktunya untuk balas dendam karena kurang tidur di pondok. Ia bahkan sudah bangun sejak jam 4 pagi. Ayah dan ibunya bangga melihat anak bujangnya berbeda kelakuannya setelah mondok. Sebelum mondok, orang tua Ajai sering mengeluhkan kelakuan anak semata wayangnya ini. Tidur saat malam telah larut dan bangun saat matahari sudah nongol. Jangankan buat mandi, buku catatan pun asal bawa kalau hari sekolah. Bila hari libur, ia tak kan pernah bangun sebelum adzan dhuhur berkumandang. Pasalnya malamnya begadang hingga subuh menjelang. Praktis shubuhpun ia jamak dengan dhuhur. Namun untungnya ia tetap menjalankan kewajiban orang Islam, Shalat lima waktu. walau masih bolong-bolong. he he he

Namun itu dulu. Dulu saat Ajai belum mondok. Sekarang ia sudah lain. Dulu biskuit sekarang roti. Dulu nylekit sekarang santri. Seperti tampak hari ini, ia sudah bangun setengah jam sebelum shubuh. Mandi adalah hal pertama yang ia lakukan, setelah baca doa bangun tidur tentunya. Kemudian pakaian kokonya ia kenakan dengan penuh semangat. Dan berjingkrak-jingkrak penuh semangat ia menuju masjid yang tak berapa jauh di utara rumahnya. Shalat tahiyyatul masjid 2 rokaat dan tahajud 2 rokaat ia lakukan kemudian. tak berapa lama ia pun menghidupkan speaker, tarhiem 5 menit. Adzan ia kumandangkan. Tak sia-sia ia kursus adzan sama pak Fathoni, Ustadz Ajai di pondok. Ini terbukti banyak warga desa Sumberkotes yang bergegas ke masjid dan iqomah ia lantunkan dengan begitu syahdunya. Ajaipun shalat berjamaah dengan H. Salim sebagi imamnya.

Ayah dan ibunya kaget bukan kepalang dibuatnya. "alhamdulillah...Engkau telah kabulkan doa kami Ya Allah..." bisik ibunya dalam hati saat melihat Ajai bangun pagi dan shalat shubuh. Bahkan bukan cuma itu, Ajai kini sudah pinter adzan dan berani melakukannya di masjid. Ayahnya pun menyetujui perkataan istrinya dengan mengatakan "Bu, anak kita dah berubah ya Bu. padahal baru satu tahun kita pondokkan di Almoen." Bu Aminah, ibu Ajai tersenyum bahagia sebagai respon ucapan suaminya.

Pulang dari masjid, Ajai langsung mengganti sarungnya dengan celana jeans kesayangannya. Dan baju kokonya pun ia ganti dengan kaos biru yang dibelinya saat sambangan terakhir. Ia mengeluarkan Hp-nya dan mengetik cepat serta mengirimkannya ke seseorang di seberang sana.

Dul, dh bgn? bntr lg gw k rmh U. qt jln2 k mlg.bls gpl.

Selesai ia kirim sms itu, Ajai mengeluarkan MX yang baru di beli orang tuanya dua bulan lalu. Ia pun kini tenggelam dalam keasyikan mengelus-elus MXnya dengan kain softfoam yang telah diolesi sampo. Siulan bersenandung pop terdengar dari mulutnya. Burung yang bertengger di pohon samping rumahnya merasa tersaingi. Ia pun terbang melayang. Jauh.

Ketahuannya Kangen Band terdengar dari hp 6600nya. Ada sms masuk. Gundul rupanya membalas smsnya.

Ok, gw tngg d rmh. but gw da krj@n. so, jam 9 z.

###

"Jai, memang kamu dah punya sim?" Tanya Gundul begitu Ajai sudah sampai di rumahnya.
"Ah... gampang itu"
"Tapi kalau ntar ada polisi gimana?"
"Ya kalau ada polisi ya biarin. Masa mau kita usik?"
"Bukan gitu. kamsud saya, jika nanti di jalan kita kena operasi gimana? Soalnya sekarangkan tanggal tua"
"Mang kalau tanggal tua kenapa?" Ajai balik tanya.
"Kalau tanggal tua kan polisi makin buas bin ganas. Suka nyari mangsa. Coz sakunya sudah pada kosong."
"Emangnya kita ini binatang apa? kok mangsa. Aah... udahlah. Serahkan urusan begituan ke aku" tantang Ajai sambil mengibaskan tanganya di depan muka.
Selesai perdebatan kecil itu, Ajai menstater Jupiter MX silvernya yang tadi pagi ia semir habis. suara motornya menderu-deru saat Ajai memutar gas dan menginjak giginya. Memainkan suaranya.
"Siap?" tanyanya.
"Oke.." Si Gundul menjawab sambil memegang pundak Ajai setelah duduk di belakang Ajai.

Brrrrrr... MX pun melaju dengan kecepatan tak normal. Begitulah Ajai kalau mengendarai sepeda motor. Apalagi saat ini ia lagi kangen naik motor. Cos sudah lama tidak mengendarai motor sejak mondok di Almoen, karena di Almoen dilarang naik sepeda motor. Hal ini, kata pengurus dikarenakan pernah ada salah dua santri Almoen yang naik sepeda motor dan kecelakan nabrak pohon saat di belokan kedok Turen. Bahkan, masih kata salah satu pengurus pondok, pernah ada santri yang saat sambangan minjam sepeda motor temannya dan menabrak orang di Pasar Turen dan ia pun berurusan dengan polisi. Ya, begitulah aturan pondok, satu yang melakukan maka semua kena dampaknya.
"Hus... hati-hati coy" teriak Gundul saat motor digeber mendadak oleh Ajai. Gundul hampir saja jatuh kebelakang. secepat kilat tangannya berpegangan pinggang Ajai di depannya.
"Hei... Ngapain kamu pegang-pegang pinggangku Dul?" Ajai kaget pinggangnya jadi sasaran tangan Gundul. "Kalau Indah sih nggak apa-apa megang pundakku. Ini kamu... Ih, Jijai.." Seru Ajai
"Uh... pengennya..." Monyong Gundul membalas cibiran Ajai di depannya.
"Hei Jai, hati-hati di depan ada polisi lho. Biasanya..." sambung Gundul memperingatkan saat mereka mau melewati pohon beringin selatan Gadang.
"Santai, bos..." Balas Ajai, enteng.

15 meter di depan mereka pak polisi menghentikan beberapa pengendara sepeda motor. Tampak dua sejoli berbicara dengan polisi yang ada dekat dengan mobil patroli. Kena tilang. Bapak separuh baya di depan Ajai, menghentikan Vespanya dekat polisi bernama Suyatno. Ajai membaca nama polisi tersebut yang tertera di atas saku sebelah kanannya. Ajai memelankan motornya, siap berhenti. Namun anehnya ia dan pengendara di belakangnya tidak disuruh berhenti oleh polisi tersebut. Tapi diberi aba-aba untuk meneruskan perjalanannya.
Brrrmmm... seketika Ajai memacu motornya mengikuti aba-aba polisi tersebut yang juga diikuti oleh pengendara Yamaha Mio si belakangnya.
"Jai... kok nggak diberhentiin ya kita?" Tanya Gundul heran.
"Nggak tahu." Jawab Ajai. "Tapi kan asyik toh nggak kena tilang?" Ajai melemparkan pertanyaan retoris pada Gundul.
"Mungkin karena motorku baru kali Dul" Sambung Ajai yang dibalas senyuma Gundul.
"Mungkin. Tapi kan biasanya tanggal tua kayak gini polisi tuh cara tambahan income." Gundul nggak berhenti bertanya.
"Sepupuku kemarin katanya juga kena 50.000 padahal cuma nggak ada tutup lubang anginnya saja." sambung Gundul.
"Ah... itu mah polisinya saja yang kebangeten." timpal Ajai.
"Iya tuh... polisinya perlu diberi tindakan tegas. Kayak di Surabaya gitu."
"Emang di Surabaya gimana?" tanya Ajai.
"Dari mana kamu tahu Dul" Tanya Ajai.
"Koran, bo. Koran..." Tandas Gundul bangga. "Makanya baca koran dong..."
"Baca sih baca. Tapi...
"Yang dibaca olah raganya doang....?
"Bukan...
"Apa...?
"Iklan...!!!"
"Ha.... ha... ha....

Mereka tertawa dijalanan. Bberapa pengendara motor dan mobil menengok ke arah mereka. Bahkan penjual koran pun kalah menarik dibanding mereka. Tak terasa Ajai dan Gundul sudah sampai di dekat perempatan Klojen.

"Hei Jai. Pelan." Bisik Gundul.
"Kenapa? Takut?"
"Bukan gitu. Tuh lihat sudah lampu kuning." Gundul menunjuk ke arah lampu lalu lintas yang berada kurang lebih sepuluh meter di depan mereka.

Brrrmmmm... Bukannya menuruti omongan Gundul, Ajai bahkan menambah kecepatan. Secara otomatis motor yang mereka kendarai melesat maju meninggalkan mobil dan motor lainnya yang berhenti dibelakang mereka.

"Woooouuw... Edan kamu Jai" Jerit Gundul sambil memukul pelan punggung Ajai.
"Gimana..? Asyik kan..?" yang dijeritin malah meledek dengan ucapannya.
"Oh iya,Jai. Kamu ngajak aku ke Malang, tepatnya mau ngapain?" tanya Gundul tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Nggak ngapa-ngapain. Kita jalan-jalan saja. Ke matos." Ujar Ajai ringan.
"Wualah... Jai Ajai... aku kira mo kencan" sela Gundul kecewa.
"Eh iya, kebetulan aku mau ke Gramedia. Mau beli buku Surat-Surat Cinta" Tukas Gundul kemudian.

Tiba-tiba, lima menit kemudian, motor mereka di hampiri oleh sepeda motor besar dan di atasnya sesosok polisi melambaikan tangan ke arah mereka berdua. Mengisyaratkan agar menepi.
"Jai, polisi" Gumam Gundul ditelinga Ajai. Gemetar.
"Iya. Aku tahu" Ajai menyahut.
"Ada apa Pak?" Ajai bertanya mendahului polisi itu bicara.
"Apa saudara tahu, kenapa saya menyuruh anda untuk berhent?" Tanya polisi itu kemudian.
"Lho... Bapak ini gimana sih Pak? Bukankah tadi saya bertanya kepada bapak? Itu tandanya saya nggak tahu kenapa Bapak menyuruh saya untuk berhenti" Jawab Ajai.
"Maaf, Tadi saudara melanggar rambu-rambu lalu lintas" Polisi itu berbicara tegas.
"Maaf, Pak. Rambu-rambu yang mana? Saya tidak merasa melanggar rambu-rambu yang ada...
"Mohon, diperlihatkan surat-surat kendaraan Anda, Mas?" polisi itu meminta tanpa mengindahkan perkataan Ajai.
"Maaf banget pak, bukannya saya nggak mau menunjukan surat-surat itu, tapi tolong Bapak jelaskan dulu kenapa? Dan rambu-rambu apa yang saya langgar" Ajai menjawab dengan nada tinggi tertahan. Gundul yang duduk di jok belakang turun. khawatir melihat keadaan yang ada.
"Sudah tunjukkan saja surat-suratnya!!" Polisi itu membentak Ajai.
Ajai melihat muka polisi itu. Sekilas membaca nama yang tertera di atas sakunya. Priyanto.
"Pak polisi yang saya hormati, dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya dan tanpa ada niatan sedikitpun untuk membantah perintah bapak, tolong beri tahu saya, apa salah saya sehingga bapak memberhentikan saya dan sekarang meminta surat-surat saya?" Ajai berkata tegas dengan disopan-sopankan.
"Baik, Saudara telah melanggar lampu merah!" katanya setengah membentak.
Ajai terpana. Gundul ingat sesuatu.
"Segera perlihatkan STNK dan SIM saudara!!" Lanjut polisi itu melanjutkan tanpa melihat keterkejutan Gundul.
"Pak, Saya tidak melanggarnya!" Sergah Ajai cepat.
"Saya melaju cepat sebelum lampu itu menyala merah" sambungnya.
"Sudah, Jangan banyak omong, cepat perlihatkan surat-suratnya."
"Bapak jangan asal menuduh saya melanggarnya, Pak. Saya tahu persis karena saya yang mengendarai motor. Sebelum lampu itu menyala merah, saya sudah melaju melewatinya, Pak" Tangkis Ajai tidak mau menyerahkan surat-suratnya.
"Sudah, ayo sekarang mas berdua ikut saya saja ke pos sana! Kalau tidak mau menyerahkan surat-suratnya"
"Saya bukan tidak mau, Pak. Tapi, saya memang tidak melanggarnya. Lalu kenapa saya harus menyerahkannya?"
"ATAS NAMA HUKUM, cepat serahkan surat-suratnya. Anda telah menyita waktu saya" Kata Polisi itu marah.
"Bapak juga telah menyita waktu saya. Seharusnya kami sudah sampai di tujuan. Tapi karena bapak menghentikan kami, jadinya kami terlambat sampai di tempat" sanggah Ajai kepada polisi itu.
"Kalau memang bapak mau lihat, Nih, saya perlihatkan..." sambung Ajai sambil mengambil STNK dan SIM dari dompetnya lalu melambaikan keduanya di muka polis tersebut.
Selesai adegan tersebut, Ajai menstater motornya dan menyuruh Gundul naik. Lalu....

Brrrmmm.... brrrmmm..... wussssh.....

Ajai memacu motornya melaju cepat meninggalkan polisi yang terbengong-bengong atas kelakuan kedua anak tersebut.

read more

Monday, April 7, 2008

Monday, April 7, 2008 | 0 comments

read more

Yu, kenapa willy pulang?

0 comments
Yu, waktu willy pulang kemarin, willy diminta ema untuk pulang. sebenarnya ema meminta willy untuk berhenti kuliah dan ngajar di malang. pulang. kerja atau nikah. untuk nemenin ema di rumah. katanya ema nggak enak di rumah nggak ada yang diikuti.

aduh willy serba salah yu...

pengennya willy sih kliah sampe selesei baru pulang tapi...

aduh... nah untuk "ngadem-ngadem" ema makanya willy kemarin pulang. karena pulang inilah willy harus cuti kuliahnya selama 1 semester (6 bulan) karena waktu pulang willy belum sempat daftar ulang. jadi... yach... terpaksa banget willy pilih itu coz selain itu juga willy berfikir dengan cuti kuliah willy bisa ngumpulin uang untuk ngebiayain Iyah mondok.

Rencananya mondok di al-mu'minien Lohbener Indramayu. tempat willy ngabdi dulu.

kalau asep, sebelum willy balik ke malang, willy bujuk dia. nah dia agak tertarik bahkan banyak tanya-tanya tentang bagaimana di pondok itu? dan apa saja yang harus disiapkannya? bahkan dia minta ngelihat dulu pondoknya (ke malang). tapi berhubung jauh, nggak ada uang, dan nggak ada waktu jadi willy bilang, "udah yakin aza pasti asep bisa. kan masih ada kang willy di malang?"

"tapi ntar kakang boyong dulu sebelum asep lulus?"

"nggak..." jawabku.

asep pun tersenyum dan "ok deh.."


moga aza niat nya nggal berubah. moga azzamnya kuat untuk mondok sehingga nggak ke makan omongan orang-orang yang ingin menggagalkan dia mondok.


oh iya nih ada foto-foto keluarga lho...



nih iyah--adik kita tersayang--mau sekul di hari sabtu....


nih iin yang terlihat cantik kalau make busana muslimah. bener kan yu..?

iin terlihat kurus banget yu. yah mungkin karena kurang jajan. dan makannya iin pun sulit. dia makan nggak teratur. makan kalau mau aza. padahal ema sudah berulang kali nyuruh iin makan. tapi ngomongnya. "engko bae..." "emong..."

ema kelihatan lebih tua yah Yu... yach mungkin karena kebanyakan mikirin beban hidup. belum lagi dengan keadaan keluarga yang seperti ini. tapi Willy bangga lho Yu, ma ema, dia selalu memikirkan dan mengutamakan anak-anaknya. yayu, willy, iyah, dan lebih lagi iin. sebagai cucu yang paling manis. ema selalu ingat pesan almarhum bapak. "Jaga iin".

Ema dan Iyah di depan rumah. saat foto ini diambil asep baru saja selesai mandi. tuh kelihatan di belakang. penampakan. he he he...

tapi kenapa yach.. asep tuh jarang ke rumah kalau nggak ada willy. kata ema.

"ya... mungkin karena enakan di Bapa sono ma" willy jawab gitchu

asep nich. foto di depan tivi, tuh lagi lihatin tv terus. aseeeep....


read more

kambing etawa

kambing etawa
kambing gemuk makan fermentasi gedebok

silahkan coba...!!!

Blog Archive

Hidup tak akan memberimu apa-apa kecuali kau memaknai hidup dengan caramu...
 

Express

Seorang kawan yang mendampingi kita pada saat kesulitan lebih baik dari pada seribu
kawan yang mendampingi kita pada saat kebahagiaan.


Berkata benar dapat sangat menyulitkan bahkan beresiko ditolak. Tetapi itulah satu-
satunya pilihan jika kita membangun hubungan yang baik.

Anak lebih membutuhkan bimbingan dan simpati dari pada instruksi.

The Good Father

The Good Father

MoTivE

Bila saat ini kita belum berhasil dan sukses bisa jadi karena kita belum bekerja keras, berfikir cerdas dan beramal dengan benar.


Saat menunda amal sholeh berarti kita sedang menunda kesuksesan dan kebahagian.


Seseorang mulia bukan karena apa yang dimilikinya tapi karena pengorbanannya untuk
memberikan manfaat bagi orang lain.